Rabu, 23 Desember 2015

Konflik dan Stress

Kata ”konflik” berasal dari bahasa latin configere yang artinya saling memukul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik didefinisikan sebagai percekcokan, perselisihan, atau pertentangan dengan demikian secara sederhana konflik merujuk pada adanya dua hal atau lebih yang bersebrangan tidak selaras dan bertentengan.
Secara sosiologis konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. 
Konflik termasuk bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif. 
  • Soerjono Soekanto menyebut konflik sebagai suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. 


  • Lewis A. Coser berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atau status kekuasan dan sumber saya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan mencerai atau melenyapkan lawan. 


  • John Lewis Gillin dan John Philip Gillin melihat konflik dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan (oppositional process) artinya konflik adalah bagian dari sebuah proses interaksi sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbadaan fisik, emosi, kebudayaan, dan perilaku. 


Konflik lahir dari kedataan akan adanya perbedaan-perbedaan, menurut Rarf Dahendrof, masyarakat terdiri atas organisasi-organisasi yang didasarkan pada kekuasaan atau wewenang. 
Kekuasaan adalah dominasi satu pihak atau pihak lain berdasarkan paksaan sedangkan wewenang adalah dominasi yang diterima dan diakui oleh pihak yang di didominasi. Dahendrof menamakan kondisi itu sebgai “imperative coordinated associations” (asosiasi yang di kordinasi secara paksa). Perbedaan-perbedaan itu memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakatnya tidak dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut. Hal itu mendorong masing-masing individu atau kelompok untuk saling menghancurkan. 
Dalam hal ini, Soerjono Soekanto mengatakan bahwa “perasaan” memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan tersebut.
Coser menyatakan bahwa dengan hubungan yang intim umumnya orang berusaha menekan rasa permusuhan demi menghindari konflik. Namun hal itu akan menyebabkan akumulasi permusuhan yang sewaktu-waktu akan meledak.

Soerjono soekanto mengemukakan empat faktor yang dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat, yakni perbedaan antar individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perbedaan sosial.


Stres adalah suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.

Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.

Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

Sumber-sumber potensi stress pada umumnya berasal dari faktor lingkungan, organisasi, dan diri sendiri (pribadi).


Sebagai contoh kasus, saya akan membahas tentang film berikut ini :
The Admiral: Roaring Currents

The Admiral: Roaring Currents (Hangul: 명량; RR: Myeongryang) adalah film Korea Selatan tahun 2014 yang disutradarai dan juga ikut ditulis oleh Kim Han-min dan dibintangi oleh Choi Min-sik. Film ini menjadi film terbesar sepanjang masa pada penjualan tiket film di Korea Selatan, dengan lebih dari 17 juta tiket terjual dan film lokal pertama yang memiliki pendapatan kotor lebih dari US$100 juta.
Film ini mengisahkan tentang perang antara Jepang dan Korea dimana Korea diserang oleh Jepang yang hendak menguasai Korea tetapi Korea bertahan dengan menerima terjadinya sebuah peperangan. 
Perang tersebut terjadi di perairan sehingga Korea menyiapkan kapal besar yang disebut "kapal kura-kura" untuk menyerang Jepang, namun sayang pada suatu malam, salah satu kapal kura-kura terbesar yang Korea punya terbakar habis oleh api. Pada film ini terlihat ada beberapa jenis konflik yang terjadi. Diantaranya adalah konflik lingkungan dan konflik pribadi. Konflik lingkungan disini yaitu konflik antara Jepang dan Korea sedangkan konflik pribadi yang terjadi yaitu perasaan takut dan tertekan yang dialami oleh komandan Korea Yi Sun-shin (Choi Min-sik) dan rakyatnya akibat teror dari Jepang. Bahkan karena tidak dapat menyelesaikan konflik pribadi tersebut salah satu warga stress dan putus asa, ada pula prajurit yang saat berperang di kapal karena dia stress dan putus asa dia melakukan tindakan bodoh dengan mengebom kapalnya sendiri.
Berbeda dengan sang komandan Yi Sun-shin, meski ia mengalami konflik pribadi dan juga mengalami stress tetapi dia bisa memanajemen stress tersebut sehingga menjadi kekuatan bagi dirinya untuk mengambil tindakan dalam berperang.


Berikut ada beberapa teknik mengurangi stress :
  1. Pelatihan autogenik
  2. Aktivitas sosial
  3. Terapi kognitif
  4. Resolusi konflik
  5. Melakukan hobi
  6. Meditasi
  7. Bernapas dalam-dalam
  8. Yoga Nidra
  9. Nootropics
  10. Membaca novel
  11. Doa
  12. Teknik relaksasi
  13. Ekspresi artistik
  14. Humor
  15. Latihan fisik
  16. Spa
  17. Pelatihan Somatics
  18. Menghabiskan waktu di alam
  19. Obat alami
  20. Klinis divalidasi pengobatan alternatif
  21. Manajemen waktu
  22. Perencanaan dan pengambilan keputusan
  23. Mendengarkan jenis musik tertentu santai
  24. Menghabiskan waktu yang berkualitas dengan hewan peliharaan
Pada umumnya konflik dan stress dapat diatasi tetapi itu tergantung pada kepribadian diri masing-masing orang. Semakin baik kita memanajemen konflik dan stress, semakin baik juga kepribadian kita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar