Jumat, 23 Oktober 2015

Etika & Etiket

      Menurut KBBI etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) sedangkan etiket adalah tata cara (adat sopan santun, dan sebagainya) dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. Seringkali orang salah mengartikan etika dan etiket bahkan kebanyakan orang hanya mengetahui etika atau etiket adalah sebutan lain dari etika. Tetapi sesungguhnya etika dan etiket adalah dua hal berbeda.

       Istilah etika sebagaimana dijelaskan berkaitan dengan moral, sedangkan etiket berkaitan dengan nilai sopan sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal. Persamaannya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. Artinya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.
Defenisi etiket, menurut para pakar ada beberapa pengertian, yaitu merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab.

Etiket didukung oleh berbagai macam nilai, antara lain;
1.      nilai-nilai kepentingan  umum
2.      nilai-nilai kehjujuran, keterbukaan dan kebaikan
3.      nilai-nilai kesejahteraan
4.      nilai-nilai kesopanan, harga-menghargai
5.      nilai diskresi (discretion: pertimbangan)

Etiket juga sering disebut tata krama, yakni kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antarmanusia setempat. Tata berarti adat, aturan, norma, peraturan.


CONTOH ETIKA
CONTOH ETIKET
Membuang sampah pada tempatnya
Menggunakan seragam sekolah dengan rapi.
Jangan membuang ludah/ air liur sembarangan
Makan menggunakan sendok dan garpu
Selalu tersenyum dan menyapa dengan ramah
Jika hendak berpergian, beri salam terlebih dahulu kepada orang tua
Tidak mencorat-coret tembok atau fasilitas umum
Berbicara sopan dengan orang yang lebih tua


Tiga norma umum pembeda ETIKA & ETIKET (Sims, 2003)

  1. Norma SOPAN-SANTUN sebagai norma pengaturan perilaku dan sikap lahiriah manusia dalam melakukan relasi sosial dengan sesama mencakup berbagai perilaku keseharian (cara bicara, bertamu, makan, berpakaian, dll) 
  2. Norma MORAL yang terkait dengan  komponen penilaian tentang baik dan tidak baik, benar dan salah, tepat dan tidak tepat terhadap segala tindakan dan tingkahlaku manusia di dalam suatu masyarakat.
  3. Norma HUKUM sebagai seperangkat aturan yang dibuat pemerintah dalam rangka menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hukum menentukan ekspektasi etika yang diharapkan dalam komunitas dan mencoba mengatur serta mendorong pada perbaikan masalah yang dipandang buruk atau tidak baik dalam komunitas. Hukum sebagai suatu norma dimana aturan-aturan diberlakukan secara tegas menyangkut keselamatan dan kesejahteraan banyak orang dalam kehidupan bermasyarakat.


ETIKA
ETIKET
Niat
Sekeretaris yang memberikan data dengan sebenar-benarnya,tapi dilaksanakan dengan muka cemberut,maka sekretaris tersebut tidak melanggar etika tetapi etiket
Cara
Sekretaris dalam melayani tamunya harus sopan dan ramah,menunjukan muka yang manis jika hal itu tidak dipatuhi,maka sekretaris dianggap telah melanggar etikt
Nurani
Sekretaris yang melakukan perbuatan tidak jujur,walaupun rapi tetapi etika diabaikan
Formalitas
Sekretaris harus berpakaian rapid an sopan,ia dianggap melanggar etiket, apabila melayani tamu dengan hanya memakai singlet dengan sendal
Mutlak
Ketentuan yang mengatakan jangan memanipulasi dan mempermainkan data,sifatnya mutlak dimana saja,kapan saja,dan bagi siapa saja
Relatif
Bila anda diundang oleh atasan untuk makan bersama,maka anda harus menggunakan sendok,tetapi apabila dilakukan dalam keadaan santai,hal itu tidak berlaku
Btainiah
Menyangkut sisi batin dan hati nurani : seperti sifat jujur
Lahiriah
Terlihat dari wujud nyata atau penampilan contoh: cara berbicara


Banyak contoh kasus pelanggaran etika seperti membuang sampah sembarangan dan pelanggaran etiket yaitu berlaku tidak sopan ketika berbicara dengan yang lebih tua. Padahal sejak kecil kita diajarkan cara berprilaku yang baik tetapi masih banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya etika dan etiket bagi hidup kita pribadi.
Semakin etika dan etiket kita baik maka semakin banyak juga orang yang akan menghargai kita.

Selasa, 20 Oktober 2015

Profesionalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional.
Sementara kata profesional sendiri berarti: bersifat profesi, memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan, beroleh bayaran karena keahliannya itu.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa profesionalisme memiliki dua kriteria pokok, yaitu keahlian dan pendapatan (bayaran). Kedua hal itu merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan.


Profesional yang mendatangkan pendapatan bukan pendapatan yang membuat profesional.

Berikut adalah ciri-ciri profesionalisme:
1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal.
2. Memiliki ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di
    dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas
    dasar kepekaan.
3. Memiliki sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan
    lingkungan yang terbentang di hadapannya.
4. Memiliki sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak
    dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan
    perkembangan pribadinya.
5. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion


Kebanyakan orang menerapkan pemahaman 'yang mahal pasti profesional' bukan 'profesional itu mahal'. Pekerja yang bayarannya mahal belum tentu perofesional, bisa jadi dia bekerja sesuai tuntutan hanya karena pembayarannya yang besar sehingga jika suatu saat pembayaraanya kecil maka pekerjaan yang dikerjakan pun tidak maksimal.
Sedangkan seharusnya orang berfikir tentang 'profesional itu mahal' karena seorang profesional yang asli adalah orang yang bekerja dengan maksimal sesuai dengan keahlian yang ia miliki tanpa berorientasi kepada pembayarannya tetapi berorientasi kepada kepuasan konsumen. Dan setelah masyarakat tau akan profesionalitasnya, maka otomatis pendapatan yang besar juga akan menghampiri.
Meskipun dua hal diatas berhubungan dengan kegiatan kerja atau pelayanan yang ditawarkan dan pendapatan yang diterima tetapi masing-masing memiliki perbedaan makna.

Banyak contoh dalam kehidupan bermasyarakat yang bisa kita ambil misalnya pegawai yang bertugas menangani pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tentunya kebanyakan dari kita atau kerabat dan kenalan kita pasti pernah mengalaminya. Jika kita membayar dengan harga lebih maka proses pembuatan KTP kita akan dipercepat sedangkan jika tidak maka kejelasannya pun tidak akan diketahui.

Bagaimana cara untuk dilihat/ dinilai profesional?
1. Keramahtamahan & respect other
    Untuk mendapat respon yang baik, kita harus melakukan yang terbaik. Dan untuk mendapat
    penghargaan, maka kita harus terlebih dahulu menghargai orang lain. Janganlah sulit untuk
    tersenyum karena senyuman adalah keramahtamahan yang paling berperanpenting.
2. Being on time
    Dalam hal apapun, sudah seharusnya kita tepat waktu. Tepat waktu dalam mengerjakan
    pekerjaan maupun tepat waktu dalam mengahdiri acara atau melaksanakan sebuah acara.
    Karena ketepatan waktu pun menjadi nilai penting bagi seorang profesional.
3. Do the best & responsible
    Lakukan sebaik mungkin sesuai dengan skill atau kemampuan yang kita miliki. Bertanggung
    jawab atas segala tindakan, keputusan, dan kesalahan karena seorang profesional tidak lari
    dalam mengatasi masalah.
4. Berpakaian rapi
    Penampilanmu mencermikan kepribadianmu, sehingga hal utama yang harus diperhatikan adalah
    penampilan. Apakah saya sudah rapi? Apakah pakaian saya sudah cukup sopan/ formal?

Kamis, 15 Oktober 2015

Museum Taman Prasasti

Saya mau share nih tentang salah satu obyek wisata menarik yang pernah saya kunjungi. Obyek wisata tersebut adalah Museum Taman Prasasti. Apa dan dimana sih Museum Taman Prasasti itu?
          Museum Taman Prasasti adalah sebuah museum cagar budaya peninggalan masa  kolonial Belanda yang berada di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia, beserta koleksi kereta jenazah antik. Museum seluas 1,2 ha ini merupakan museum terbuka yang menampilkan karya seni dari masa lampau tentang kecanggihan para pematung, pemahat, kaligrafer dan sastrawan.
 
Mengapa dinamakan Museum Taman Prasasti? 
             Semula Museum Taman Prasasti yang terletak di Jl. Tanah Abang I ini adalah pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, yang sudah penuh. Makam baru ini menyimpan koleksi nisan dari tahun sebelumnya karena sebagian besar dipindahkan dari pemakaman Nieuw Hollandse Kerk pada awal abad 19. Nisan yang dipindahkan ini ditandai dengan tulisan HK, Hollandsche Kerk.

Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu. Karena perkembangan kota, luas museum ini kini menyusut tinggal hanya 1,3 ha saja.

              Di museum ini dihimpun berbagai prasasti dari zaman Belanda dan sebelumnya serta makam beberapa tokoh Belanda, Inggris dan Indonesia atau Hindia Belanda seperti:
  • A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng)
  • Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)
  • J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh)
  • Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura)
  • Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.
  • Miss Riboet, tokoh opera pada tahun 1930-an
  • Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an

Nisan Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles)


Nisan Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)


Nisan Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.



Selain nisan Belanda, saya juga menemukan Nisan Tentara Jepang.



Selain itu disini juga terdapat sebuah prasasti.



Saya juga melihat peti bekas jenazah Bung Karno dan Bung Hatta. Dikarenakan Bung Karno dan Bung Hatta beragama islam dan tidak memakai adat pemakaman menggunakan peti maka peti tersebut hanya digunakan selama pengantaran jenazah ke pemakaman.


Jadi untuk melihat nisan-nisan Belanda yang unik tidak perlu jauh-jauh pergi ke Belanda, cukup datang ke Museum Taman Prasasti yang terbuka untuk umum. Bagi yang menyukai pemotretan bergaya gothic pun dapat memilih museum ini sebagai tempat pemotretan karena tempatnya sangatlah rapi, indah, dan rindang akan pepohonan. Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu dari jam 09.00-15.00 WIB. Harga tiket masuk yaitu Rp 5.000,-/orang.




Sabtu, 03 Oktober 2015

Pengembangan Diri (Self Development)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Berkembang adalah hal alami bagi manusia dan terjadi sepanjang hidup manusia. Pengembangan diri merupakan bentuk perwujudan dari aktualisasi diri, yaitu proses untuk mewujudkan dirinya yang terbaik sejalan dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Setiap individu mempunyai kekuatan yang bersumber dari dirinya, namun banyak orang yang merasa tidak mempunyai kemampuan apa-apa, merasa dirinya tidak berguna dan tidak mampu mencapai aktualisasi diri.
Setiap orang harus mempunyai 3 keyakinan dasar dalam pengembangan dirinya, yaitu :

  • saya mau berubah,
  • saya harus berubah,
  • saya dapat berubah.

Oleh karena itu pengembangan diri memerlukan kesadaran dan motivasi untuk berubah.

berikut ini adalah gambar tingkatan dari pengembangan diri.
Pembelajar adalah tahap dimana seseorang sedang mengembangkan dirinya. Pada tahap pembelajar ini, dibutuhkan kesadaran dari diri sendiri untuk berubah dan menjadikan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Pada tahap kompeten, seseorang telah mengetahui kemampuannya dan memberikan kinerja yang memadai dalam pekerjaan tertentu. Contoh orang-orang yang berada pada tahap kompeten adalah pekerja.
Kompetitif adalah tahap dimana seseorang mengetahui kemampuannya dan ingin bersaing dan menjadi teratas. Pada tahap ini, orang lebih memiliki keinginan untuk bersaing, berbeda dengan pada tahap kompeten, mereka lebih menerima keadaan yang ada.
Pada tahap Inovatif adalah tahap teratas karena seseorang yang berada di tahap ini adalah seseorang yang menjadi panutan atau kepala dalam memikirkan ide-ide untuk bergerak maju. Contoh orang-orang yang berada pada tahap ini adalah pemilik perusahaan atau pembuat barang.

Semua tahap ini adalah pilihan hidup bagi setiap orang. Apakah saya akan puas dengan hanya berada di tahap kompeten? atau saya harus menjadi orang yanag berada di tahap inovatif?

Untuk masuk ke tahap-tahap pengembangan diri, tentu ada cara bagaimana kita mengembangkan diri dengan baik dan benar. Berikut adalah 4 cara yang harus dilakukan untuk mengembangkan diri :

  1. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan
  2. Menetapkan tujuan
  3. Mmbentuk cara belajar
  4. Mengukur dan memastikan perubahan


Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bisa dengan berbagai metode, baik yang bersifat data/ tabel maupun yang bersifat pertanyaan.
Contoh identifikasi menggunakan pertanyaan adalah sebagai berikut :

  1. Dengan cara bagaimana akan memanfaatkan kekuatan kelebihan ?
  2. Dengan cara bagaimana kekurangan dapat diatasi ?
  3. Peluang apa saja yang dapat digunakan untuk memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan ?
  4. Hambatan apa yang akan dijumpai dalam memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan?
Sesudah identifikasi dirasa cukup dan benar-benar dikenali, lanjut ke bagian penetapan tujuan.

Berkaitan dengan perumusan tujuan tertentu, perlu diperhatikan beberapa karakteristik yaitu:

  • Bermakna pribadi, sebaiknya mempunyai arti bagi diri seseorang. Tidak untuk menyenangkan orang lain.
  • Realistik, Sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan ada kemungkinan untuk mencapainya.
  • Jelas dan rinci, tujuan yang luas dan abstrak tidak akan mengarahkan orang pada tujuan yang akan dicapai.
  • Menantang, memerlukan usaha untuk mencapainya.
  • Beresiko sedang, kemungkinan tercapainya lebih besar daripada kemungkinan gagalnya.
  • Dapat diukur, ada kriteria ukuran keberhasilannya.
  • Mempunyai batasan waktu.
Jika sudah mengenal diri dan  sudah menetapkan tujuan, akankah tujuan tersebut tercapai kalau kita tidak mempunyai waktu untuk mencapainya, jika kita mengalahkan tujuan tersebut untuk mengerjakan aktivitas lain?

Prinsip dalam management waktu adalah :

“ Dahulukan yang utama dan anda harus berani memutuskan mana-mana saja yang utama.”

Sesudah kita dapat memanagement waktu, kita dapat sesekali mengecheck apakah ada perubahan dalam diri kita. Pengukuran dan kepastian perubahan bisa dirasakan oleh diri sendiri atau lingkungan sekitar.

“Tak ada seorang pun akan memerintahkan seseorang untuk berkembang. Mereka maju atau justru tertinggal adalah masalah ketekunan pribadinya” (Ralph J. Cordiner)