Rabu, 23 Desember 2015

Konflik dan Stress

Kata ”konflik” berasal dari bahasa latin configere yang artinya saling memukul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik didefinisikan sebagai percekcokan, perselisihan, atau pertentangan dengan demikian secara sederhana konflik merujuk pada adanya dua hal atau lebih yang bersebrangan tidak selaras dan bertentengan.
Secara sosiologis konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. 
Konflik termasuk bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif. 
  • Soerjono Soekanto menyebut konflik sebagai suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. 


  • Lewis A. Coser berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atau status kekuasan dan sumber saya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan mencerai atau melenyapkan lawan. 


  • John Lewis Gillin dan John Philip Gillin melihat konflik dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan (oppositional process) artinya konflik adalah bagian dari sebuah proses interaksi sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbadaan fisik, emosi, kebudayaan, dan perilaku. 


Konflik lahir dari kedataan akan adanya perbedaan-perbedaan, menurut Rarf Dahendrof, masyarakat terdiri atas organisasi-organisasi yang didasarkan pada kekuasaan atau wewenang. 
Kekuasaan adalah dominasi satu pihak atau pihak lain berdasarkan paksaan sedangkan wewenang adalah dominasi yang diterima dan diakui oleh pihak yang di didominasi. Dahendrof menamakan kondisi itu sebgai “imperative coordinated associations” (asosiasi yang di kordinasi secara paksa). Perbedaan-perbedaan itu memuncak menjadi konflik ketika sistem sosial masyarakatnya tidak dapat mengakomodasi perbedaan-perbedaan tersebut. Hal itu mendorong masing-masing individu atau kelompok untuk saling menghancurkan. 
Dalam hal ini, Soerjono Soekanto mengatakan bahwa “perasaan” memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan tersebut.
Coser menyatakan bahwa dengan hubungan yang intim umumnya orang berusaha menekan rasa permusuhan demi menghindari konflik. Namun hal itu akan menyebabkan akumulasi permusuhan yang sewaktu-waktu akan meledak.

Soerjono soekanto mengemukakan empat faktor yang dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat, yakni perbedaan antar individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perbedaan sosial.


Stres adalah suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.

Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.

Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

Sumber-sumber potensi stress pada umumnya berasal dari faktor lingkungan, organisasi, dan diri sendiri (pribadi).


Sebagai contoh kasus, saya akan membahas tentang film berikut ini :
The Admiral: Roaring Currents

The Admiral: Roaring Currents (Hangul: 명량; RR: Myeongryang) adalah film Korea Selatan tahun 2014 yang disutradarai dan juga ikut ditulis oleh Kim Han-min dan dibintangi oleh Choi Min-sik. Film ini menjadi film terbesar sepanjang masa pada penjualan tiket film di Korea Selatan, dengan lebih dari 17 juta tiket terjual dan film lokal pertama yang memiliki pendapatan kotor lebih dari US$100 juta.
Film ini mengisahkan tentang perang antara Jepang dan Korea dimana Korea diserang oleh Jepang yang hendak menguasai Korea tetapi Korea bertahan dengan menerima terjadinya sebuah peperangan. 
Perang tersebut terjadi di perairan sehingga Korea menyiapkan kapal besar yang disebut "kapal kura-kura" untuk menyerang Jepang, namun sayang pada suatu malam, salah satu kapal kura-kura terbesar yang Korea punya terbakar habis oleh api. Pada film ini terlihat ada beberapa jenis konflik yang terjadi. Diantaranya adalah konflik lingkungan dan konflik pribadi. Konflik lingkungan disini yaitu konflik antara Jepang dan Korea sedangkan konflik pribadi yang terjadi yaitu perasaan takut dan tertekan yang dialami oleh komandan Korea Yi Sun-shin (Choi Min-sik) dan rakyatnya akibat teror dari Jepang. Bahkan karena tidak dapat menyelesaikan konflik pribadi tersebut salah satu warga stress dan putus asa, ada pula prajurit yang saat berperang di kapal karena dia stress dan putus asa dia melakukan tindakan bodoh dengan mengebom kapalnya sendiri.
Berbeda dengan sang komandan Yi Sun-shin, meski ia mengalami konflik pribadi dan juga mengalami stress tetapi dia bisa memanajemen stress tersebut sehingga menjadi kekuatan bagi dirinya untuk mengambil tindakan dalam berperang.


Berikut ada beberapa teknik mengurangi stress :
  1. Pelatihan autogenik
  2. Aktivitas sosial
  3. Terapi kognitif
  4. Resolusi konflik
  5. Melakukan hobi
  6. Meditasi
  7. Bernapas dalam-dalam
  8. Yoga Nidra
  9. Nootropics
  10. Membaca novel
  11. Doa
  12. Teknik relaksasi
  13. Ekspresi artistik
  14. Humor
  15. Latihan fisik
  16. Spa
  17. Pelatihan Somatics
  18. Menghabiskan waktu di alam
  19. Obat alami
  20. Klinis divalidasi pengobatan alternatif
  21. Manajemen waktu
  22. Perencanaan dan pengambilan keputusan
  23. Mendengarkan jenis musik tertentu santai
  24. Menghabiskan waktu yang berkualitas dengan hewan peliharaan
Pada umumnya konflik dan stress dapat diatasi tetapi itu tergantung pada kepribadian diri masing-masing orang. Semakin baik kita memanajemen konflik dan stress, semakin baik juga kepribadian kita.



Selasa, 01 Desember 2015

Service (Pelayanan)

Apa itu service? Hal apa saja yang terikat dalam service?
Menurut KBBI pelayanan adala perihal atau cara melayani; usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang); jasa; kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa.
Dalam sebuah pelayanan yang utama adalah adanya seorang pelanggan dan kita sebagai seorang yang melayani dan barulah disitu terjadi sebuah pelayanan atau service.
  • Pelanggan adalah pihak yang paling penting dalam perusahaan.
  • Pelanggan tidak bergantung pada kita. Kita yang bergantung padanya.
  • Pelanggan tidak melakukan interupsi terhadap pekerjaan kita melainkan pelangganlah tujuan dari pekerjaan kita.
  • Pelanggan tidak terpisah dalam organisasi kita tetapi pelanggan merupakan bagian dari organisasi kita.
  • Kita tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk melayaninya melainkan pelanggan yang membawa kita kepada pemenuhan kebutuhannya.
(Mahatma Gandhi)


Pelanggan digolongkan menjadi dua yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal.
Pelanggan internal adalah pelanggan diluar lingkup 'kita' sedangkan pelanggan eksternal adalah diri kita sendiri sebagai pelanggan, tim kerja.

Pelanggan bukanlah raja dan bukan segala-galanya. Pelanggan adalah partner kita (equal) dalam mencapai tujuan kita yaitu memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pelanggan mempunyai persepsi apakah kepuasan akan kebutuhannya terpenuhi atau tidak. Tiap pelanggan tentunya memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda sehingga kita sebagai fasilitator dalam memenuhi kepuasan pelanggan harus memperhatikan karakter pelanggan, usia, atau hal-hal khas lain yang dimiliki pelanggan.


Kepuasan pelanggan dibagi menjadi 4 yaitu :
  1. Basic : dimana di tingkat ini pelayanan masih bisa diterima tetapi masih sangat minimum.
  2. Expected : pada tingkat ini pelayanan yang diterima bersifat rata-rata.
  3. Desired : pada tingkat ini kepuasan pelanggan terpenuhi karena sesuai dengan harapan pelanggan.
  4. Unanticipated : di tingkat ini, kepuasan terpenuhi dengan tambahan surpsire service yang menyenangkan.

Service mindset - change mindset
dalam melayani yang dilihat bukanlah keuntungan dari pelanggan tetapi tercapainya kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan sang pelanggan sehingga memberi kepuasan tersendiri terhadap kita. 

Terdapat 6 karakter up service mindset ;
  1. Abundant Generosity - kepuasan membantu orang lain/ dermawan.
  2. Genuine Compassion - membantu adalah tujuannya sehingga ketulusan ada didalamnya.
  3. The 'can-do' spirit - semangat untuk membantu pelanggan.
  4. Eagerness to learn and grow - membantu orang lain dengan cara yang tepat. Terus belajar, update, dan dinamis.
  5. Take personal responsibility - berani mengambil tanggung jawab secara pribadi.
  6. See the world from your costumer's point of view - melihat sesuatu dari sisi pelanggan (melayani sebagaimana anda ingin dilayani).

Totalitas menjadi kesatuan pelayanan (body, heart, mind, soul). Pelayanan menjadi kunci keberhasilan. Lebih baik memiliki satu pelanggan tetapi bertahan lama, daripada kehilanggan satu pelanggan. Kehilangan satu pelanggan berarti harus mencari pelanggan lagi dan harganya adalah 6 kali lipat. Melayanilah dengan sepenuh hati, jangan memikirkan keuntungannya. Seiring dengan kepuasan pelanggan maka keuntungan/ profit akan datang dengan sendirinya.

Minggu, 22 November 2015

Komunikasi

Apa itu komunikasi?
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan melalui media tertentu, proses dengan informasi yang dipertukarkan antara individu melalui sistem umum dari simbol, tanda-tanda atau perilaku.
Dalam berkomunikasi ada pengirim dan penerima. Pengirim mengirim informasi melalui atau tanpa perantara (media). Penerima menerima informasi dan memberikan timbal balik atau respon terhadap informasi yang diberikan. Dalam komunikasi sering kali munculnya berbagai hambatan entah dari dalam atau dari luar.

Hambatan dalam berkomunikasi dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu :

  1. Semantik : berupa perbedaan bahasa/ makna. Contohnya orang sunda akan memiliki bahasa yang beda dengan orang jawa. bagi orang sunda gedang itu berarti pepaya, sedangkan bagi orang jawa gedang itu berarti pisang.
  2. Fisik : berupa lingkungan seperti suasana ramai atau gaduh dan ricuh.
  3. Fisiologi : berupa kelainan dalam pendengaran atau pengucapan contohnya seperti orang-orang dengan keterbatasan pendengaran (tua rungu) atau pengucapan (sumbing).

Komunikasi juga memiliki tujuan, yaitu :
  • Untuk mendapatkan informasi.
  • Untuk mengubah perilaku. Maksudnya adalah diharapkan dari informasi yang didapat, ada perubahan perilaku yang terjadi. Contoh : Seorang guru sedang menerangkan, tetapi murid-muridnya berbicara sendiri dengan teman-temannya. Sang guru menyuruh murid-muridnya untuk tenang, lalu murid-murid tersebut diam dan memperhatikan. Dapat terlihat terjadi perubahan perilaku para murid dari gaduh menjadi diam.
  • Untuk mendapat tindakan/ lebih menampakan suatu tindakan. Contoh : Seorang atasan memberikan informasi kepada sekretarisnya bahwa minggu depan akan diadakan rapat. Sang sekretaris akan langsung mencatat jadwal tersebut dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan selama rapat. Dari contoh tersebut terlihat bahwa adanya tindakan seteleh informasi didapat.
  • Untuk membujuk. Umumnya kita semua pasti sudah pernah mengalami bujukan. Bujukan bisa berupa iklan atau promosi untuk menggunakan suatu produk atau yang lainnya.
  • Untuk pemahaman. Pemahaman disini bisa berupa ilmu pengetahuan yang diberikan guru atau dosen kepada siswa atau mahasiswanya agar dapat lebih memahami suatu hal dengan pasti dan jelas.

Tentunya komunikasi memiliki tata cara seperti diantaranya intonasi suara harus dapat terdengar, pengucapan harus jelas, dilakukan pengulangan bila diperlukan dan sebagainya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah perhatian terhadap tata bicara pada lawan bicara kita. Apabila lawan bicara kita adalah orang yang lebih tua maka kita harus berbicara dengan formal dan sopan santun. Apabila lawan bicara kita adalah teman atau rekan kerja yang sebaya maka kita bisa berbicara bahasa sehari-hari yang tidak baku. Tetapi semua hal tersebut tidak lepas dari keharusan akan keramahtamahan dan sopan santun.

Umumnya komunikasi yang paling berdampak pada kehidupan sehari-hari adalah komunikasi non-verbal berupa gesture atau ekspresi wajah. Seperti halnya seseorang sedang marah, sedih, senang dan sebagainya, tanpa diberitahu pun kita akan dengan sendirinya mengetahui hal tersebut karena telihat dari perilaku orang tersebut. Meskipun perkataan bisa berbohong tapi perilaku atau sikap kita tidak bisa bohong.


Dalam berkomunikasi ada tiga sifat dalam berkomunikasi, diantaranya adalah : 


Pasif
Tegas
Agresif
·        Menerima tanggung jawab.
·        Menyampaikan tetapi tidak merasa “benar”
·         Penyampaian maupun tindakan “benar” dan bertanggung jawab.
·         Menuntut tetapi tidak menyampaikan “benar”.
·         Tidak menerima tanggung jawab.

Ada pula orang yang berkomunikasi dengan sifat pasif agresif. Sifat tersebut adalah suatu kelainan karena bisa dibilang orang tersebut "diam-diam mengahanyutkan". Biasanya orang dengan sifat pasif agresif lah yang lebih banyak menimbulkan masalah yang tanggung jawabnya tidak mau dipegang oleh orang tersebut.

Komunikasi bisa dengan berbagai bentuk dan cara tetapi hal terpenting dari komunikasi adalah keterbukaan, menghargai satu sama lain, dan memahami. Karena tanpa hal tersebut tidak akan ada hubungan komunikasi yang bisa terjalin dengan baik.

Jumat, 23 Oktober 2015

Etika & Etiket

      Menurut KBBI etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) sedangkan etiket adalah tata cara (adat sopan santun, dan sebagainya) dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. Seringkali orang salah mengartikan etika dan etiket bahkan kebanyakan orang hanya mengetahui etika atau etiket adalah sebutan lain dari etika. Tetapi sesungguhnya etika dan etiket adalah dua hal berbeda.

       Istilah etika sebagaimana dijelaskan berkaitan dengan moral, sedangkan etiket berkaitan dengan nilai sopan sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal. Persamaannya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. Artinya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.
Defenisi etiket, menurut para pakar ada beberapa pengertian, yaitu merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab.

Etiket didukung oleh berbagai macam nilai, antara lain;
1.      nilai-nilai kepentingan  umum
2.      nilai-nilai kehjujuran, keterbukaan dan kebaikan
3.      nilai-nilai kesejahteraan
4.      nilai-nilai kesopanan, harga-menghargai
5.      nilai diskresi (discretion: pertimbangan)

Etiket juga sering disebut tata krama, yakni kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antarmanusia setempat. Tata berarti adat, aturan, norma, peraturan.


CONTOH ETIKA
CONTOH ETIKET
Membuang sampah pada tempatnya
Menggunakan seragam sekolah dengan rapi.
Jangan membuang ludah/ air liur sembarangan
Makan menggunakan sendok dan garpu
Selalu tersenyum dan menyapa dengan ramah
Jika hendak berpergian, beri salam terlebih dahulu kepada orang tua
Tidak mencorat-coret tembok atau fasilitas umum
Berbicara sopan dengan orang yang lebih tua


Tiga norma umum pembeda ETIKA & ETIKET (Sims, 2003)

  1. Norma SOPAN-SANTUN sebagai norma pengaturan perilaku dan sikap lahiriah manusia dalam melakukan relasi sosial dengan sesama mencakup berbagai perilaku keseharian (cara bicara, bertamu, makan, berpakaian, dll) 
  2. Norma MORAL yang terkait dengan  komponen penilaian tentang baik dan tidak baik, benar dan salah, tepat dan tidak tepat terhadap segala tindakan dan tingkahlaku manusia di dalam suatu masyarakat.
  3. Norma HUKUM sebagai seperangkat aturan yang dibuat pemerintah dalam rangka menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hukum menentukan ekspektasi etika yang diharapkan dalam komunitas dan mencoba mengatur serta mendorong pada perbaikan masalah yang dipandang buruk atau tidak baik dalam komunitas. Hukum sebagai suatu norma dimana aturan-aturan diberlakukan secara tegas menyangkut keselamatan dan kesejahteraan banyak orang dalam kehidupan bermasyarakat.


ETIKA
ETIKET
Niat
Sekeretaris yang memberikan data dengan sebenar-benarnya,tapi dilaksanakan dengan muka cemberut,maka sekretaris tersebut tidak melanggar etika tetapi etiket
Cara
Sekretaris dalam melayani tamunya harus sopan dan ramah,menunjukan muka yang manis jika hal itu tidak dipatuhi,maka sekretaris dianggap telah melanggar etikt
Nurani
Sekretaris yang melakukan perbuatan tidak jujur,walaupun rapi tetapi etika diabaikan
Formalitas
Sekretaris harus berpakaian rapid an sopan,ia dianggap melanggar etiket, apabila melayani tamu dengan hanya memakai singlet dengan sendal
Mutlak
Ketentuan yang mengatakan jangan memanipulasi dan mempermainkan data,sifatnya mutlak dimana saja,kapan saja,dan bagi siapa saja
Relatif
Bila anda diundang oleh atasan untuk makan bersama,maka anda harus menggunakan sendok,tetapi apabila dilakukan dalam keadaan santai,hal itu tidak berlaku
Btainiah
Menyangkut sisi batin dan hati nurani : seperti sifat jujur
Lahiriah
Terlihat dari wujud nyata atau penampilan contoh: cara berbicara


Banyak contoh kasus pelanggaran etika seperti membuang sampah sembarangan dan pelanggaran etiket yaitu berlaku tidak sopan ketika berbicara dengan yang lebih tua. Padahal sejak kecil kita diajarkan cara berprilaku yang baik tetapi masih banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya etika dan etiket bagi hidup kita pribadi.
Semakin etika dan etiket kita baik maka semakin banyak juga orang yang akan menghargai kita.

Selasa, 20 Oktober 2015

Profesionalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional.
Sementara kata profesional sendiri berarti: bersifat profesi, memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan, beroleh bayaran karena keahliannya itu.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa profesionalisme memiliki dua kriteria pokok, yaitu keahlian dan pendapatan (bayaran). Kedua hal itu merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan.


Profesional yang mendatangkan pendapatan bukan pendapatan yang membuat profesional.

Berikut adalah ciri-ciri profesionalisme:
1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal.
2. Memiliki ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di
    dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas
    dasar kepekaan.
3. Memiliki sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan
    lingkungan yang terbentang di hadapannya.
4. Memiliki sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak
    dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan
    perkembangan pribadinya.
5. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion


Kebanyakan orang menerapkan pemahaman 'yang mahal pasti profesional' bukan 'profesional itu mahal'. Pekerja yang bayarannya mahal belum tentu perofesional, bisa jadi dia bekerja sesuai tuntutan hanya karena pembayarannya yang besar sehingga jika suatu saat pembayaraanya kecil maka pekerjaan yang dikerjakan pun tidak maksimal.
Sedangkan seharusnya orang berfikir tentang 'profesional itu mahal' karena seorang profesional yang asli adalah orang yang bekerja dengan maksimal sesuai dengan keahlian yang ia miliki tanpa berorientasi kepada pembayarannya tetapi berorientasi kepada kepuasan konsumen. Dan setelah masyarakat tau akan profesionalitasnya, maka otomatis pendapatan yang besar juga akan menghampiri.
Meskipun dua hal diatas berhubungan dengan kegiatan kerja atau pelayanan yang ditawarkan dan pendapatan yang diterima tetapi masing-masing memiliki perbedaan makna.

Banyak contoh dalam kehidupan bermasyarakat yang bisa kita ambil misalnya pegawai yang bertugas menangani pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tentunya kebanyakan dari kita atau kerabat dan kenalan kita pasti pernah mengalaminya. Jika kita membayar dengan harga lebih maka proses pembuatan KTP kita akan dipercepat sedangkan jika tidak maka kejelasannya pun tidak akan diketahui.

Bagaimana cara untuk dilihat/ dinilai profesional?
1. Keramahtamahan & respect other
    Untuk mendapat respon yang baik, kita harus melakukan yang terbaik. Dan untuk mendapat
    penghargaan, maka kita harus terlebih dahulu menghargai orang lain. Janganlah sulit untuk
    tersenyum karena senyuman adalah keramahtamahan yang paling berperanpenting.
2. Being on time
    Dalam hal apapun, sudah seharusnya kita tepat waktu. Tepat waktu dalam mengerjakan
    pekerjaan maupun tepat waktu dalam mengahdiri acara atau melaksanakan sebuah acara.
    Karena ketepatan waktu pun menjadi nilai penting bagi seorang profesional.
3. Do the best & responsible
    Lakukan sebaik mungkin sesuai dengan skill atau kemampuan yang kita miliki. Bertanggung
    jawab atas segala tindakan, keputusan, dan kesalahan karena seorang profesional tidak lari
    dalam mengatasi masalah.
4. Berpakaian rapi
    Penampilanmu mencermikan kepribadianmu, sehingga hal utama yang harus diperhatikan adalah
    penampilan. Apakah saya sudah rapi? Apakah pakaian saya sudah cukup sopan/ formal?

Kamis, 15 Oktober 2015

Museum Taman Prasasti

Saya mau share nih tentang salah satu obyek wisata menarik yang pernah saya kunjungi. Obyek wisata tersebut adalah Museum Taman Prasasti. Apa dan dimana sih Museum Taman Prasasti itu?
          Museum Taman Prasasti adalah sebuah museum cagar budaya peninggalan masa  kolonial Belanda yang berada di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia, beserta koleksi kereta jenazah antik. Museum seluas 1,2 ha ini merupakan museum terbuka yang menampilkan karya seni dari masa lampau tentang kecanggihan para pematung, pemahat, kaligrafer dan sastrawan.
 
Mengapa dinamakan Museum Taman Prasasti? 
             Semula Museum Taman Prasasti yang terletak di Jl. Tanah Abang I ini adalah pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, yang sudah penuh. Makam baru ini menyimpan koleksi nisan dari tahun sebelumnya karena sebagian besar dipindahkan dari pemakaman Nieuw Hollandse Kerk pada awal abad 19. Nisan yang dipindahkan ini ditandai dengan tulisan HK, Hollandsche Kerk.

Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu. Karena perkembangan kota, luas museum ini kini menyusut tinggal hanya 1,3 ha saja.

              Di museum ini dihimpun berbagai prasasti dari zaman Belanda dan sebelumnya serta makam beberapa tokoh Belanda, Inggris dan Indonesia atau Hindia Belanda seperti:
  • A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng)
  • Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)
  • J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh)
  • Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura)
  • Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.
  • Miss Riboet, tokoh opera pada tahun 1930-an
  • Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an

Nisan Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles)


Nisan Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)


Nisan Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.



Selain nisan Belanda, saya juga menemukan Nisan Tentara Jepang.



Selain itu disini juga terdapat sebuah prasasti.



Saya juga melihat peti bekas jenazah Bung Karno dan Bung Hatta. Dikarenakan Bung Karno dan Bung Hatta beragama islam dan tidak memakai adat pemakaman menggunakan peti maka peti tersebut hanya digunakan selama pengantaran jenazah ke pemakaman.


Jadi untuk melihat nisan-nisan Belanda yang unik tidak perlu jauh-jauh pergi ke Belanda, cukup datang ke Museum Taman Prasasti yang terbuka untuk umum. Bagi yang menyukai pemotretan bergaya gothic pun dapat memilih museum ini sebagai tempat pemotretan karena tempatnya sangatlah rapi, indah, dan rindang akan pepohonan. Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu dari jam 09.00-15.00 WIB. Harga tiket masuk yaitu Rp 5.000,-/orang.




Sabtu, 03 Oktober 2015

Pengembangan Diri (Self Development)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Berkembang adalah hal alami bagi manusia dan terjadi sepanjang hidup manusia. Pengembangan diri merupakan bentuk perwujudan dari aktualisasi diri, yaitu proses untuk mewujudkan dirinya yang terbaik sejalan dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Setiap individu mempunyai kekuatan yang bersumber dari dirinya, namun banyak orang yang merasa tidak mempunyai kemampuan apa-apa, merasa dirinya tidak berguna dan tidak mampu mencapai aktualisasi diri.
Setiap orang harus mempunyai 3 keyakinan dasar dalam pengembangan dirinya, yaitu :

  • saya mau berubah,
  • saya harus berubah,
  • saya dapat berubah.

Oleh karena itu pengembangan diri memerlukan kesadaran dan motivasi untuk berubah.

berikut ini adalah gambar tingkatan dari pengembangan diri.
Pembelajar adalah tahap dimana seseorang sedang mengembangkan dirinya. Pada tahap pembelajar ini, dibutuhkan kesadaran dari diri sendiri untuk berubah dan menjadikan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Pada tahap kompeten, seseorang telah mengetahui kemampuannya dan memberikan kinerja yang memadai dalam pekerjaan tertentu. Contoh orang-orang yang berada pada tahap kompeten adalah pekerja.
Kompetitif adalah tahap dimana seseorang mengetahui kemampuannya dan ingin bersaing dan menjadi teratas. Pada tahap ini, orang lebih memiliki keinginan untuk bersaing, berbeda dengan pada tahap kompeten, mereka lebih menerima keadaan yang ada.
Pada tahap Inovatif adalah tahap teratas karena seseorang yang berada di tahap ini adalah seseorang yang menjadi panutan atau kepala dalam memikirkan ide-ide untuk bergerak maju. Contoh orang-orang yang berada pada tahap ini adalah pemilik perusahaan atau pembuat barang.

Semua tahap ini adalah pilihan hidup bagi setiap orang. Apakah saya akan puas dengan hanya berada di tahap kompeten? atau saya harus menjadi orang yanag berada di tahap inovatif?

Untuk masuk ke tahap-tahap pengembangan diri, tentu ada cara bagaimana kita mengembangkan diri dengan baik dan benar. Berikut adalah 4 cara yang harus dilakukan untuk mengembangkan diri :

  1. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan
  2. Menetapkan tujuan
  3. Mmbentuk cara belajar
  4. Mengukur dan memastikan perubahan


Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bisa dengan berbagai metode, baik yang bersifat data/ tabel maupun yang bersifat pertanyaan.
Contoh identifikasi menggunakan pertanyaan adalah sebagai berikut :

  1. Dengan cara bagaimana akan memanfaatkan kekuatan kelebihan ?
  2. Dengan cara bagaimana kekurangan dapat diatasi ?
  3. Peluang apa saja yang dapat digunakan untuk memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan ?
  4. Hambatan apa yang akan dijumpai dalam memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan?
Sesudah identifikasi dirasa cukup dan benar-benar dikenali, lanjut ke bagian penetapan tujuan.

Berkaitan dengan perumusan tujuan tertentu, perlu diperhatikan beberapa karakteristik yaitu:

  • Bermakna pribadi, sebaiknya mempunyai arti bagi diri seseorang. Tidak untuk menyenangkan orang lain.
  • Realistik, Sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan ada kemungkinan untuk mencapainya.
  • Jelas dan rinci, tujuan yang luas dan abstrak tidak akan mengarahkan orang pada tujuan yang akan dicapai.
  • Menantang, memerlukan usaha untuk mencapainya.
  • Beresiko sedang, kemungkinan tercapainya lebih besar daripada kemungkinan gagalnya.
  • Dapat diukur, ada kriteria ukuran keberhasilannya.
  • Mempunyai batasan waktu.
Jika sudah mengenal diri dan  sudah menetapkan tujuan, akankah tujuan tersebut tercapai kalau kita tidak mempunyai waktu untuk mencapainya, jika kita mengalahkan tujuan tersebut untuk mengerjakan aktivitas lain?

Prinsip dalam management waktu adalah :

“ Dahulukan yang utama dan anda harus berani memutuskan mana-mana saja yang utama.”

Sesudah kita dapat memanagement waktu, kita dapat sesekali mengecheck apakah ada perubahan dalam diri kita. Pengukuran dan kepastian perubahan bisa dirasakan oleh diri sendiri atau lingkungan sekitar.

“Tak ada seorang pun akan memerintahkan seseorang untuk berkembang. Mereka maju atau justru tertinggal adalah masalah ketekunan pribadinya” (Ralph J. Cordiner)

Sabtu, 19 September 2015

Kepribadian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain. Menurut Heldebrand, kepribadian merupakan gabungan kualitas, kebiasaan dan reaksi yang terbentuk atas dasar kesadaran kita dan yang dikenali sebagai suatu hal yang baik atau tidak dalam hal kelazimannya direspon secara positif atau tidak oleh mereka yang melakukan kontak dengan kita. 
Menurut Horton, kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, dan tempramen seseorang. Menurut Koentjoroningrat, kepribadian adalah susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan.
Secara umum, kepribadian adalah keseluruhan sikap, ekspresi, perasaan, temparmen, ciri khas dan juga prilaku seseorang. Sikap perasaan ekspresi & tempramen tersebut akan terwujud dalam tindakan seseorang kalau di hadapkan kepada situasi tertentu. Setiap orang memiliki kecenderungan prilaku yang baku/berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang sedang di hadapi, sehingga jadi ciri khas pribadinya.
Kepribadian itu sendiri dapat diukur melalui observasi, pemahaman, atau pengajuan pertanyaan.
Faktor utama pembentuk kepribadian adalah faktor keturunan atau biologis dan faktor lingkungan.
Contoh faktor keturunan adalah jika ada seorang ibu yang sedang mengandung dan dia cenderung emosional pada saat itu maka kemungkinan besar nantinya saat dewasa, anak dalam kandungannya itu akan menjadi pribadi yang emosional.
Faktor lingkungan juga banyak berpengaruh dikehidupan jaman sekarang. Faktor lingkungan tersebut bisa berupa lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan sebagainya. Contohnya ada seorang anak yang biasanya aktif di lingkungan rumahnya, ketika ia bergaul dengan teman di sekolahnya dan dikenalkan dengan game online maka si anak berubah menjadi pasif dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Hipocatres mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat empat unsur kepribadian, yakni unsur chole (koleris), melancholic (melankois), phlegmatic (plegmatis), dan sanguinis.
Dalam buku  karya Carl Jung berjudul Psychologische Typen, Jung mengategorikan orang ke jenis utama dari fungsi psikologis. Ia mengusulkan empat fungsi utama kesadaran:

  • Dua fungsi mengamati: Sensasi dan Intuisi
  • Dua fungsi penjurian: Berpikir dan Feeling

Fungsi dimodifikasi oleh dua utama jenis sikap: extraversion dan introversi. Jung berteori bahwa fungsi dominan mencirikan kesadaran, sedangkan kebalikannya adalah ditekan dan ciri perilaku sadar.
Menggambar pada teori Jung, Isabel Myers mengusulkan bahwa untuk setiap tipe kepribadian, fungsi kognitif (penginderaan, intuisi, pemikiran, dan perasaan) membentuk sebuah hirarki. Hirarki ini merupakan pola default seseorang dari perilaku.
Fungsi ini bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengukur atau menentukan kepribadian seseorang.
Sedikit sharing, saya ditest oleh dosen saya seputar kepribadian. Saya diberi pertanyaan dan diminta untuk menjawab. Diakhir tiap-tiap soal, dosen menjelaskan bentuk jawaban dan pendekatannya terhadap bentuk kepribadian. Lalu saya mendapat akhir fungsi kognitif yaitu ISFJ (Introvert, Sensing, Feeling, Judging).

I - introversi lebih suka extraversion: ISFJs cenderung tenang dan pendiam. Mereka umumnya lebih memilih berinteraksi dengan beberapa teman dekat daripada luas lingkaran kenalan, dan mereka mengeluarkan energi dalam situasi sosial (sedangkan energi gain extraverts).
S - Sensing lebih suka intuisi: ISFJs cenderung lebih konkret dari abstrak. Mereka memusatkan perhatian mereka pada detail daripada gambaran besar, dan realitas langsung daripada kemungkinan masa depan.
F - Merasa lebih suka berpikir: ISFJs cenderung menghargai pertimbangan pribadi atas kriteria objektif. Ketika membuat keputusan, mereka sering memberikan bobot yang lebih implikasi sosial daripada logika.
J - Penghakiman lebih suka persepsi: ISFJs cenderung untuk merencanakan kegiatan mereka dan membuat keputusan awal. Mereka berasal rasa kontrol melalui prediktabilitas.

ISFJs ditandai di atas semua oleh keinginan mereka untuk melayani orang lain, mereka "harus diperlukan." (Sejak ISFJs, seperti semua SJS, sangat banyak terikat oleh konvensi sosial yang berlaku, mereka membentuk "layanan" kemungkinan untuk mengecualikan unsur moral atau politik kontroversi;. Mereka mengkhususkan diri dalam lokal, pribadi, dan praktis)

ISFJs sering tidak dihargai, di tempat kerja, rumah, dan bermain. Ironisnya, karena mereka membuktikan berkali-kali bahwa mereka dapat diandalkan untuk kesetiaan mereka dan tulus, kerja berkualitas tinggi, orang-orang di sekitar mereka sering mengambil keuntungan dari mereka. Diakui, masalah ini kadang-kadang diperparah oleh ISFJs sendiri; misalnya, mereka terkenal buruk pada mendelegasikan ("Jika Anda ingin hasilnya benar, lakukanlah sendiri").

Di tempat kerja, ISFJs adalah pekerja metodis dan akurat, sering memiliki kenangan yang sangat baik dan kemampuan analitik tak terduga; mereka juga baik dengan orang-orang di kelompok kecil. ISFJs membuat rekan kerja yang menyenangkan dan dapat diandalkan dan karyawan teladan, tetapi cenderung terburu-buru dan tidak nyaman dalam peran pengawasan. Mereka mampu membentuk loyalitas yang kuat, tetapi ini lebih bersifat pribadi daripada loyalitas kelembagaan. Karir tradisional untuk ISFJ meliputi: pengajaran, pekerjaan sosial, pekerjaan agama yang paling, keperawatan, kedokteran (praktek umum saja), ulama dan dan kerja sekretaris apapun, dan beberapa jenis karir administrasi.

Meskipun disarankan untuk berkarir seperti hal-hal tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa saya menjalani karir lain. Saya tidak akan terpaku pada satu hal. Jika saya dijabarkan seperti itu, bukan berarti saya tidak dapat melakukan apa yang saya inginkan.

Kamis, 10 September 2015

Pengantar & Pengenalan Psikologi Pelayanan

Apa itu Psikologi? Apa itu Psikologi Pelayanan? Pasti kita semua sudah tidak asing lagi mendengar kata Psikologi. Psikologi adalah ilmu tentang kejiwaan. Umumnya setelah mendengar kata Psikologi, orang cenderung membayangkan tentang Psikolog dengan pasien gangguan jiwa. Padahal sebenarnya Psikologi tidak hanya untuk orang-orang yang terganggu jiwanya tetapi juga untuk orang normal seperti kita ini. Psikologi atau ilmu kejiwan itu sendiri bisa diukur dari tingkah laku dan dilakukan dengan memahami, bertanya, atau observasi. Tentu tingkah laku orang yang sedang bahagia berbeda dengan orang yang sedang sedih. Dari tingkah laku tersebut munculah keadaan untuk memahami dan bertanya ataupun observasi mengapa bisa terjadi seperti itu, dan disanalah Psikologi berperan.
Psikologi Pelayanan adalah ilmu kejiwaan dalam bidang pelayanan atau jasa. Hal terpenting dalam melayani konsumen dalam sudut pandang psikologi pelayanan adalah mendengarkan. Mendengarkan keinginan atau kebutuhan konsumen sehingga kita bisa mengkreasikan dan membuat pelayanan yang sesuai dengan keinginan konsumen. Mungkin kebanyakan dari mahasiswa di Indonesia memutuskan untuk kuliah dan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi adalah karena adanya keinginan dan harapan jabatan pekerjaan yang lebih tinggi dan penghasilan yang tinggi. Padahal jabatan dan penghasilan seseorang didapat dari kemampuan yang orang itu miliki. Semakin kita memiliki kemampuan yang banyak, semakin tinggi pula sebuah perusahaan dapat menerima kita di posisi yang cukup memuaskan. Kebetulan saya adalah mahasiswa jurusan usaha perjalanan wisata di sekolah tinggi pariwisata di Jakarta. Saya melanjutkan studi dan ingin nantinya bergelut dibidang jasa. Tentunya saya kuliah tidak hanya belajar tentang obyek wisata, destinasi wisata dan sebagainya. Tetapi saya juga belajar meningkatkan kemampuan berfikir dan berkreasi sekreatif mungkin. Sering saya mendengar dari teman-teman saya bahwaa banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran atau menjadi tukang becak. Menurut saya, mereka yang seperti itu adalah mereka yang masih bingung terhadap tujuan mereka. Mereka masih bingung apakah jurusan yang mereka ambil itu benar atau tidak. Mereka masih bingung akan bekerja sebagai apa nantinya. Setelah mendapat pengenalan psikologi pelayanan hari ini saya disadarkan bahwa pertama-tama saya harus yakin bahwa ini adalah jurusan yang saya ambil, ini adalah jalan yang saya ambil yang nantinya akan menuntun saya menjadi apa yang saya inginkan. Lalu saya juga disadarkan dengan berbagai rintangan kedepan yang akan saya hadapi saat saya lulus nanti. Saya akan berhadapan dengan para pekerja luar negri yang sama-sama mencari pekerjaan yang sama. Saya dituntun kepada kenyataan yang sulit sehingga saya dapat berfikir bagaimana rencana saya kedepannya. Saya berfikir bahwa nantinya dalam persaingan ketat itu saya akan mengusahakan membuat sebuah usaha dalam bidang jasa yang menyajikan keindahan obyek wisata lokal Indonesia yang belum banyak diketahui. Dengan begitu saya akan dapat mencapai tujuan saya dan bersaing dengan pekerja asing.

Selasa, 30 Juni 2015

Loner atau Penyendiri

Loner atau penyendiri biasanya muncul bukan karna tanpa alasan, justru karna berbagai macam faktorlah yang menjadikan seseorang itu menjadi loner. Contoh alasan mengapa seseorang menjadi loner adalah bullying. Kebanyakan orang yang pernah dibully pasti akhirnya menjadi loner walau tidak semua seperti itu. Mengapa bisa seperti itu? Karna orang yang pernah dibully pasti merasa tertekan, terpojok, dan takut sehingga menurutnya lingkungan sekitarnya menakutkan dan ia menjadi seorang loner. Contoh lain alasan mengapa seseorang menjadi loner adalah kurangnya respect dari lingkungan sekitar terhadap seseorang, entah itu lingkungan bermain atau keluarga. Respect itu sendiri berupa support akan hal-hal kecil. Bentuk wujudnya adalah seperti ini, jika kita mempunyai teman dan teman kita berbicara tentang  hal rumit yang kita tidak mengerti, bukan berarti kita harus menolak pembicarannya, karna jika kita menolak akan pembicaraannya maka kemungkinan besar ia akan merasa sakit hati dan terabaikan. Bentuk lain adalah jika kita mempunyai saudara yang mendapat penghargaan tetapi dia tidak dibanggakan oleh orang terdekatnya maka kita harus menjadi salah satu orang yang bisa membanggakannya, jika tidak maka saudara kita itupun akan merasa semua yang ia lakukan sia-sia dan percuma. Di jaman yang modern ini, banyak loner yang menemukan dunia baru mereka yaitu dunia maya. Tidak jarang loner yang lebih eksis di dunia maya seperti media sosial atau game online. Loner berbeda dengan Otaku. Loner ada karena keterbatasan kreatifitas dan ekspresi di dunia nyata sedangkan Otaku ada karena komitmen untuk hidup mencintai dan menjiwai anime.
Loner itu bisa berkurang apabila kita mau mengerti apa yang menjadi keluhan dari sang loner itu sendiri. So, jangan pernah acuh terhadap orang lain karna kita hidup bukan hanya sendirian.

Senin, 29 Juni 2015

はじめまして Hallo ¡Hola! Hai!

I make this blog for spent my time. Actually, karna ga ada kerjaan jadi bikin blog dan iseng jadi blogger, siapa tau jadi blogger terkenal kan? Who knows? So, i say hello for every blogger. I'm a newbie so よろしく お願いします o(^⌣^)o