Kamis, 15 Oktober 2015

Museum Taman Prasasti

Saya mau share nih tentang salah satu obyek wisata menarik yang pernah saya kunjungi. Obyek wisata tersebut adalah Museum Taman Prasasti. Apa dan dimana sih Museum Taman Prasasti itu?
          Museum Taman Prasasti adalah sebuah museum cagar budaya peninggalan masa  kolonial Belanda yang berada di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia, beserta koleksi kereta jenazah antik. Museum seluas 1,2 ha ini merupakan museum terbuka yang menampilkan karya seni dari masa lampau tentang kecanggihan para pematung, pemahat, kaligrafer dan sastrawan.
 
Mengapa dinamakan Museum Taman Prasasti? 
             Semula Museum Taman Prasasti yang terletak di Jl. Tanah Abang I ini adalah pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, yang sudah penuh. Makam baru ini menyimpan koleksi nisan dari tahun sebelumnya karena sebagian besar dipindahkan dari pemakaman Nieuw Hollandse Kerk pada awal abad 19. Nisan yang dipindahkan ini ditandai dengan tulisan HK, Hollandsche Kerk.

Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu. Karena perkembangan kota, luas museum ini kini menyusut tinggal hanya 1,3 ha saja.

              Di museum ini dihimpun berbagai prasasti dari zaman Belanda dan sebelumnya serta makam beberapa tokoh Belanda, Inggris dan Indonesia atau Hindia Belanda seperti:
  • A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng)
  • Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)
  • J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh)
  • Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura)
  • Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.
  • Miss Riboet, tokoh opera pada tahun 1930-an
  • Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an

Nisan Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles)


Nisan Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda)


Nisan Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.



Selain nisan Belanda, saya juga menemukan Nisan Tentara Jepang.



Selain itu disini juga terdapat sebuah prasasti.



Saya juga melihat peti bekas jenazah Bung Karno dan Bung Hatta. Dikarenakan Bung Karno dan Bung Hatta beragama islam dan tidak memakai adat pemakaman menggunakan peti maka peti tersebut hanya digunakan selama pengantaran jenazah ke pemakaman.


Jadi untuk melihat nisan-nisan Belanda yang unik tidak perlu jauh-jauh pergi ke Belanda, cukup datang ke Museum Taman Prasasti yang terbuka untuk umum. Bagi yang menyukai pemotretan bergaya gothic pun dapat memilih museum ini sebagai tempat pemotretan karena tempatnya sangatlah rapi, indah, dan rindang akan pepohonan. Museum ini buka pada hari Selasa-Minggu dari jam 09.00-15.00 WIB. Harga tiket masuk yaitu Rp 5.000,-/orang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar